Jumat, 03 September 2010 di 02.45 | 0 komentar  

apa itu franchise?

Franchise, atau waralaba dalam bahasa Indonesia, adalah sebuah metode dalam sistem distribusi barang atau jasa. Dalam sistem franchise ini paling sedikit ada dua pihak yang terlibat, yaitu
  • Franchisor, yaitu pihak yang menjual atau meminjamkan hak dagangnya, atau merk dagangnya serta sebuah sistem bisnis untuk menjalankan bisnis tersebut.
  • Franchisee, yaitu pihak yang membayar royalti dan biaya lainnnya yang dipersyaratkan oleh franchisor untuk dapat menggunakan merk dagangnya serta sistem bisnis yang dirancang oleh franchisor.
Secara teknis, kontrak kerja antara franchisor dan franchisee inilah yang disebut franchise, tetapi kini kata franchise lebih sering dianalogikan sebagai cara dari franchisee menjalankan bisnisnya.

Dalam metode bisnis franchise, franchisor mempersiapkan rencana lengkap tentang bagaimana cara mengatur dan menjalankan bisnis bagi franchisee, misalnya adalah bagaimana franchisor yang bergerak di bidang kursus musik membantu franchisee dalam mengelola bisnis, mentediakan alat-alat musik yang digunakan seperti drums, gitar, membagi kelas-kelas musik berdasarkan jenis musik seperti jazz, rock and roll, dan lain sebagainya. Dalam rancangan bisnis tersebut disediakan langkah-langkah atau prosedur untuk aspek utama dari bisnis dan manajemen untuk mengantisipasi masalah, menyediakan lengkap matriks keputusan manajemen untuk kepentingan franchisee. Keuntungan terbesar dari membeli bisnis franchise ini adalah sistem atau metode yamg digunakan dalam mendistribusikan atau memasarkan barang dan jasa telah dikembangkan dan diuji, sehingga franchisee tidak perlu melakukan atau membuat rancangan baru untuk dapat menjalankan bisnisnya. Selain itu, frnachisee juga tidak perlu melakukan penetrasi pasar dengan memasang iklan agar produknya dikenal, karena hal itu sudah dilakukan oleh franchisor.

tips memilih franchise

Tujuan utama dalam menjalankan bisnis adalah untuk mendapatkan laba. Hal inilah yang harus dipegang oleh para calon franchisee sebelum memilih franchise. Janji franchisor yang mengatakan bahwa bisnisnya dapat membukukan BEP dalam waktu singkat jangan langsung dipercaya begitu saja, karena diperlukan survey mendalam untuk dapat memutuskan franchise mana yang memiliki prospek yang bagus. Sampai saat ini franchise telah banyak memberikan keuntungan kepada franchisee-nya sehingga kecurigaan yeng berlebihan kepada franchisor pun tidak dibenarkan, yang penting adalah franchisee wajib melakukan penelitian mengenai franchise yang diinginkannya secara mendalam sebelum memutuskan untuk membeli franchise tersebut.

Lalu apa saja yang harus dilakukan oleh calon franchisee untuk dapat mengetahui propek franchise yang akan dibelinya?

  • Pertama, lihatlah bisnis yang sudah berjalan, apakah sukses atau tidak. Sukses atau tidaknya suatu bisnis secara detail dapat dilihat dari laporan keuangan perusahaan tersebut, atau secara kasat mata dapat dilihat dari jumlah pelanggan dan jumlah franchise yang sudah lebih dulu berjalan.
  • Kedua, lihatlah apa yang menjadi daya tarik dari bisnis tersebut. Apakah kelebihan bisnis tersebut yang dapat menarik pengunjung labih banyak dibandingkan dengan bisnis sejenis. Hal ini penting karena dalam memasarkan sebuah barang atau jasa, differensiasi atau keunikan menjadi hal utama dalam menarik minat pengunjung.
  • Ketiga, telitilah apakah perusahaan tersebut sudah memiliki sebuah sistem dan prosedur standar dalam menjalankan bisnisnya. Sistem ini harus sudah teruji mampu mengatasi masalah yang mungkin terjadi dilapangan. Selain itu program promosi yang dilakukan oleh franchisor harus diketahui oleh franchisee, karena promosi ini sangat berpengaruh terhadap kelangsungan bisnis.
  • Keempat, cari tahu sudah berapa banyak franchisee yang menjalankan franchise tersebut, dan jika memungkinkan carilah informasi dari para franchisee itu mengenai bisnis yang sudah berjalan, dukungan dari franchisor dalam mengatasi masalah dan prospek kedepan mengenai bisnis tersebut.
  • Kelima, cari tahu mengenai franchise lain yang bergerak di bidang usaha yang sama, apa saja kelebihan dan kekurangan franchise tersebut dibandingkan franchise yang sedang kita bidik, untuk mendapatkan pandangan yang lebih objektif dalam menentukan pilihan. Siapa tahu ada franchise lain yang memiliki prospek lebih baik.

tips membangun bisnis franchise

Membangun sebuah bisnis diperlukan kerja keras dari pelakunya, hal ini juga berlaku dalam membangun bisnis franchise. Bukanlah hal mudah bagi franchisor dalam memperoleh kepercayaan dari calon franchisee untuk membeli franchise-nya. Diperlukan persiapan matang dan lengkap sebelum franchisor dapat memasarkan bisnisnya kepada calon franchisee. Apa sajakah hal yang harus dilakukan oleh franchisor untuk dapat memenuhi syarat sebagai franchisor yang tangguh?

  • Pertama, buatlah sebuah konsep bisnis yang dapat menarik minat dari calon franchisee, konsep bisnis inilah senjata utama dalam membangun sebuah bisnis franchise. Konsep bisnis ini dibuktikan ketangguhannya dengan diaplikasikan pada bisnis di lapangan. Tidak mudah membuktikan ketangguhan konsep bisnis ini kepada calon franchisee karea diperlukan waktu sampai mereka melihat kesuksesan bisnis yang diperoleh melalui konsep bisnis ini. Konsep bisnis ini meliputi program promosi yang akan dilakukan dalam memasarkan produk.
  • Kedua, bentuklah sebuah tim yang dapat membantu kita dalam membangun bisnis ini, baik dalam segi strategi bisnis, hukum serta etika franchise. Tim inilah juga yang nantinya membentuk format mengenai dukungan yang dapat diberikan kepada franchisee dalam menegatasi masalah yang mucul di lapangan. Hal ini jugalah yang dapat kita jual kepada calon franchisee sebagai daya tarik franchise kita.
  • Ketiga, seperti yang dikatakan oleh ilmu pemasaran, carilah keunikan dari barang atau jasa yang akan dijual, karena hal inilah yang dapat menentukan laku atau tidaknya barang atau jasa yang kita jual kepada konsumen, dan juga memudahkan kita untuk melakukan penetrasi pasar dalam persaingan dengan perusahaan lain yang sejenis.
  • Keempat, susunlah secara paket-paket franchise yang dapat dipilih oleh calon franchisee, hal ini untuk memberikan kesempatan kepada calon franchisee untuk membeli franchise kita sesuai dengan kemampuannnya. Paket-paket ini dapat dibedakan dari harga, dukungan franchisor dan fasilitas yang diperoleh.
  • Kelima, berkonsultasilah dengan pihak yang sudah berpengalaman di bidang franchise atau konsultan untuk memastikan legalitas usaha kita.
  • Keenam, setelah semua matang, mulailah lakukan pemasaran dan promosi baik produk maupun sistem kepada konsumen dan calon franchisee.

Kerjasama waralaba melibatkan:
1. Hubungan yang berkesinambungan dalam jangka tertentu antara pewaralaba dengan terwaralaba.
2. Kontrak secara hukum yang menjelaskan hubungan usaha dan hak/kewajiban masing-masing pihak.
3. Penyerahan aset tertentu oleh pewaralaba sebagai dampak dari investasi yang diberikan oleh terwaralaba, baik aset nyata dan tak nyata.
4. Aktivitas usaha yang dilakukan atas nama pewaralaba dengan pengaturan dan standar mengenai prosedur kerja yang ditetapkan oleh franchisor.
(artikel oleh: franchise-id.com)


Format waralaba yang ada, antara lain:
1. Single Unit Franchise
format ini adalah format yang paling sederhana dan paling banyak digunakan karena kemudahannya. Pewaralaba memberikan hak kepada terwaralaba untuk menjalankan usaha atas nama usahanya, dengan panduan prosedur yang telah ditetapkan sebelumnya. Terwaralaba hanya diperkenankan untuk menjalankan usahanya pada sebuah cabang/unit yang telah disepakati.
2. Area Franchise
Pada format ini, terwaralaba memperoleh hak untuk menjalankan usahanya dalam sebuah teritori tertentu, misalkan pada sebuah propinsi ataupun kota, dengan jumlah unit usaha/cabang yang lebih dari 1.
3. Master franchise
Format master franchise memberikan hak pada pemegangnya untuk menjalankan usahanya di sebuah teritori ataupun sebuah negara, dan bukan hanya membuka usaha, pemegang hak dapat menjual lisensi kepada sub franchise dengan ketentuan yang telah disepakati.

Franchise baru atau lama (established)?
Dengan banyaknya jenis franchise baru yang ditawarkan, seringkali pencari waralaba menjadi bingung, apakah harus memilih waralaba baru yang menawarkan berbagai fitur menarik dan inovatif, atau haruskan memilih waralaba yang telah berdiri lebih lama, tampak stabil dan dalam fase maturity.
Berikut ini adalah beberapa informasi yang berguna untuk Anda yang sedang melakukan pertimbangan berdasarkan hal tersebut di atas:
Apakah sebuah waralaba adalah baru ataupun lama, terkadang bukanlah menjadi patokan mengenai keberhasilan dan pertumbuhan, bisa saja waralaba yang baru didirikan menjadi sangat prospektif dan memberikan keuntungan, dan juga bisa berkembang sangat baik di masa depan, dan sebaliknya, bukan tidak mungkin waralaba yang telah lama berdiri ternyata memberikan hanya sedikit return. Namun demikian faktor resiko memang dapat dikatakan berhubungan dengan berapa lama sebuah franchise telah berdiri, untuk waralaba yang baru saja hadir, tentu faktor resiko menjadi relatif lebih tinggi daripada waralaba yang telah lama tersedia, namun dapat dilihat apakah waralaba yang baru tersebut adalah bagian dari sebuah group yang terdiri dari beberapa waralaba lain yang telah sukses.
Bila dikaitkan dengan individu yang akan menjalankan waralaba tersebut (franchisee), maka dapat dikelompokan menjadi type: risk taker, moderate, dan risk avoider. Bila seseorang adalah type pengambil resiko, maka ada kecenderungan ia dapat mengambil sebuah waralaba yang baru berdiri, dengan harapan menjadi pendahulu dari merk tersebut, dengan berbagai keuntungan dalam hal kemudahan proses, biaya setup yang lebih rendah, penguasaan pasar, dan lain sebagainya. Sebaliknya bagi penghindar resiko, maka cenderung untuk mengambil jenis franchise yang telah lebih lama established untuk meminimalkan resiko, dengan konsekuensi bahwa waralaba tersebut telah memiliki jauh lebih banyak unit/cabang, biaya setup yang lebih tinggi, dan menawarkan lebih sedikit kemudahan sehubungan lebih banyak peminatnya.
Terlepas dari baru atau lamanya sebuah waralaba, hal terpenting yang perlu diketahui adalah konsep bisnis dari sebuah waralaba, apakah cukup solid, memiliki target/potensial market yang baik, dan sesuai dengan minat calon terwaralaba? Untuk mengetahui hal ini perlu dilakukan riset, yang dapat dimulai dengan menghadiri expo franchise dan meminta business proposal kit dari pewaralaba. Di luar negeri kit sejenis ini telah menjadi standar, dimana pewaralaba telah menyiapkan berbagai media cetak dan video untuk memberikan penjelasan mengenai bidang usahanya agar pencari informasi bisa mendapatkan pemahaman yang baik mengenai usaha franchisor.

Pergeseran trend konsumsi Fast Food
Setelah sekian lama fast food (yang dikenal juga dengan nama junk food) merajalela dan menguasai pasaran franchise di dunia, maka belakangan ini, seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan kesehatan, dan didukung pula oleh gencarnya promosi kesehatan di berbagai media cetak dan elektronik, maka diperkirakan bahwa kebiasaan mengkonsumsi makanan siap saji akan mengalami pergeseran ke arah makanan cepat saji yang menyehatkan, lebih sedikit diolah, dengan bahan yang sangat segar atau dinamai "Fresh Food", hal ini telah dibuktikan dengan mulai munculnya berbagai produk kesehatan yang terbuat dari bahan organik di berbagai daerah dan kesadaran untuk mengurangi konsumsi MSG.
Walau di berbagai restaurant siap saji telah menyediakan berbagai tambahan makanan fresh seperti salad, juice buah, dan lain-lain, namun kebutuhan akan specialized fresh food lambat laun semakin nyata. Di beberapa negara bahkan telah berdiri restaurant-restaurant siap saji dengan menu utama fresh food, sebagai contoh adalah "Salad Creation", restaurant franchise yang memiliki menu utama salad ini didirikan sejak tahun 2005 di Ohio dan menyediakan berbagai menu pilihan khusus salad yang jauh lebih lengkap dari salad yang dapat ditemui di restaurant fast food manapun.
Sebuah riset mengenai hal ini menunjukkan bahwa konsumen yang teredukasi dengan baik akan memilih produk makanan yang akan dikonsumsinya dalam keadaan yang lebih segar, tanpa pengolahan berlebih yang menyebabkan makanan menjadi lebih tidak menyehatkan, dan untuk hal ini, konsumen ternyata bersedia membayar lebih mahal daripada makanan yang lebih enak tapi kurang menyehatkan (junk food). Siapkah Anda memanfaatkan peluang ini?

Hal-hal yang perlu ditanyakan kepada pewaralaba:
Selain pertanyaan-pertanyaan yang bersifat teknis dan prosedural, adakalanya bermanfaat juga untuk mengetahui hal-hal yang tidak umum ditanyakan dan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam memilih sebuah franchise, antara lain:
  1. Apa yang dapat dijanjikan oleh pewaralaba mengenai keberhasilan usaha, dan standar-standar/pedoman yang perlu diikuti/dijalankan oleh terwaralaba.
  2. Apa kekuatan utama waralaba yang ditawarkan, dan juga adakah kelemahannya yang perlu diketahui pada saat ini.
  3. Sejak kapan melakukan waralaba dan telah berapa unit/pemegang lisensi waralaba yang tengah berjalan.
  4. Sebelum bergerak di bidang yang saat ini ditawarkan, adakah pengalaman perusahaan di bidang lain.
  5. Adakah pewaralaba memiliki bisnis lain yang diwaralabakan, bila ada, di bidang apa dan bagaimana kondisi perusahaan tersebut.
  6. Pernahkan ada kasus antara perawalaba dengan terwaralaba sebelumnya, bila ada, mengenai apa dan bagaimana penyelesaiannya.
  7. Dapatkah pewaralaba memberikan kontak dari franchisee lainnya untuk dilakukan tanya jawab.
  8. Adakah franchisee yang sebelumnya gagal dalam bisnis yang ditawarkan? Bila ada, apa penyebab utamanya.
  9. Apa motivasi perusahaan untuk mewaralabakan bisnisnya? (untuk waralaba yang relatif baru)
  10. Adakah point-point pada kontrak yang dapat dinegosiasikan.
  11. Adakah pembatasan pengadaan bahan baku maupun perangkat lain dari luar/pihak ketiga.
  12. Bolehkah dilakukan modifikasi tertentu terhadap produk/jasa atas sepengetahuan pewaralaba.
Point-point kesuksesan usaha waralaba:
1 Pada fase pemilihan waralaba, pilihlah jenis waralaba yang sesuai dengan hasrat dan minat Anda, yang Anda yakin akan berkembang dan menguntungkan di masa dekat dan jangka panjang. Hindari memilih jenis waralaba untuk sekedar ikut trend dan sedang banyak digemari semata.
2. Miliki Goal yang jelas dan terukur, dengan jangka waktu yang masuk akal/realistis, dan sesuaikan kebijakan-kebijakan jangka pendek Anda dengan tujuan yang telah dirumuskan tersebut. Pilah-pilah hal yang perlu dilakukan sekarang, ditunda, atau dihapuskan sama sekali untuk menghemat waktu dan sejalan dengan prioritas kerja.
3. Rumuskan rencana-rencana yang akan mendukung goal Anda tersebut, dan lakukan dengan kegigihan dan semangat, jangan lupa berdoa dan tingkatkan rasa kepedulian terhadap sesama, jangan lupa bahwa dalam setiap kesuksesan, selalu ada kepedulian terhadap sesama dan pelayanan untuk meningkatkan kualitas hidup orang lain, makin banyak seseorang berkontribusi, maka makin banyak pula seseorang akan menerima imbalannya, hal ini berlaku dalam setiap bisnis, termasuk bisnis franchise.
4. Dapatkan info sebanyak-banyaknya dari pewaralaba dalam setiap kesempatan, baik dalam training, dalam pertemuan, khususnya dalam pertemuan awal, misalnya pada saat franchise expo. Bertanya sebanyak mungkin untuk memperoleh pengetahuan maksimal mengenai bidang usaha yang akan dijalani. Hadiri pameran dan seminar yang berhubungan dengan franchise sebanyak mungkin untuk memperoleh pembanding dan alternatif yagn terbaik.
5. Kerjakan segala sesuatu se-efisien mungkin. Dengan melakukan proses franchise, banyak pihak penerima franchise (terwaralaba) masuk ke dalam pola pemikiran bahwa mengeluarkan uang adalah cara untuk menghemat usaha dan tenaga, dalam titik yang ekstrem hal ini dapat mengakibatkan pengeluaran yang tidak perlu dan pemborosan.
6. Bina hubungan baik dan pertahankan kontak yang intensif dengan pihak pewaralaba dan pihak lain yang telah berhasil di bidang tersebut, dimana kita ketahui bahwa kesuksesan seringkali meninggalkan jejak untuk diikuti.
7. Bersikap jujur dan mempertahankan reputasi. Hal ini perlu diterapkan terhadap semua pihak, baik terhadap pewaralaba, terhadap staff, konsumen, dan bahkan anggota keluarga. Dengan bersikat jujur dan berintegritas tinggi, seorang pengusaha akan memperoleh rasa hormat dari lingkungannya yang akhirnya akan memberikan kemudahan dalam berbagai hal dan aspek usahanya.
8. Gali potensi dan kreativitas, walau dalam sebuah sistem waralaba telah digariskan banyak hal yang dapat mempermudah pelakunya untuk menjalankan usaha, bukan berarti membatasi diri dengan tidak melakukan inovasi dan memanfaatkan kreativitas yang dimiliki, tentunya dengan catatan hal tersebut masih ada dalam ruang lingkup standar yang diberlakukan pewaralaba.

9 Orientasi konsumen, dalam setiap bisnis tentunya harus berfokus terhadap kepuasan konsumen selain juga pada proses pengadaannya. Terlebih lagi pada sebuah usaha waralaba, konsumen akan memandang pelayanan dan kepuasan terhadap produk adalah sebagai bagian dari sebuah citra merk secara keseluruhan.
10. Tetap semangat, bekerja secara berkesinambungan dan terus mengembangkan diri demi tercapainya tujuan hidup, peningkatan dan pertumbuhan secara konstan, yang membuahkan hasil yang pasti dan bukan diperoleh dari jalan pintas dan tidak dapat bertahan lama.



Beberapa hal mendasar mengenai waralaba:
Waralaba adalah kerjasama usaha antara usaha yang telah ada (franchisor) dengan pelaku bisnis baru (franchisee) yang menjadi pemilik dari usaha yang telah berjalan tersebut dalam format lisensi.
terwaralaba membeli ijin usaha untuk melakukan bisnis yang sama persis dengan usaha yang telah ada sebelumnya dari pewaralaba, untuk jangka waktu tertentu, dengan menerima dukungan penuh dalam hal pelatihan dan saran-saran dalam kegiatan operasional yang tercakup dalam sebuah sistem yang telah dibuat sebelumnya dan terbukti keberhasilannya.
Pewaralaba menyediakan produk dan jasa yang siap untuk dipasarkan oleh terwaralaba, (telah teruji dan terbukti berhasil) termasuk diantaranya merk usaha, sistem pembukuan, sistem operasi, standar pelayanan, standar proses pembuatan produk, pelatihan, dan lain lain
Terwaralaba mendapatkan penghematan waktu dan usaha dalam rangka riset produk/tempat/kebutuhan karyawan, pembuatan merk dan sistem, jaringan pemasaran, dan lain-lainnya yang memungkinkan terwaralaba lebih cepat untuk menjalankan usahanya tanpa perlu memulai dari nol dan melakukan 'trial dan error'
Keuntungan dari sebuah sistem waralaba adalah relatif lebih amannya daripada memulai dari awal, lebih adanya struktur dalam usaha, dapat dikatakan sebagai sebuat usaha mandiri karena adanya juga batasan campur tangan dari pihal pewaralaba, merk yang relatif lebih mudah dikenal karena jumlah cabang yang dengan mudah bertambah, dengan kualitas produk yang sama dan telah dikenal oleh konsumen.
Pewaralaba memperluas usahanya dengan lebih cepat dan efektif dengan adanya investasi dan permodalan dari pembeli/terwaralaba.


Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada saat seseorang melakukan seleksi atau memilih sebuah franchise untuk dijalankan antara lain:
1. Berapa lama usaha tersebut telah berjalan dan berapa lama usaha tersebut di-franchisekan.

2. Kesehatan keuangan dan track record yang baik. Banyak-banyaklah membaca majalah ataupun tabloid yang berhubungan dengan usaha dan bisnis, simak rubrik opini dan pertanyaan dari pembaca, karena seringkali dapat diperoleh insight yang bermanfaat mengenai sebuah usaha franchise yang sedang ditelaah.

3. Berapa banyak jumlah franchise yang telah berjalan atau juga berapa banyak jumlah cabang yang beroperasi.

4. Nilai dari produk dalam hubungannya dengan kemampuan bertahan produk / jasa dalam jangka panjang, apakah akan terpengaruh oleh teknologi, atau seberapa banyak pesaing yang ingin memasuki pasar, dll.

5. Keharusan untuk membeli bahan baku dari franchisor. Untuk beberapa jenis produk tertentu, adakalanya pewaralaba mengharuskan bahan baku dibeli dari pihak mereka, tergantung dari jenis produknya, hal ini bisa jadi menguntungkan atau malah merugikan.

6. Jenis promosi yang dilakukan oleh pihak franchisor, apakah memadai dan apakah metode komunikasinya dirasakan telah sesuai dengan target pasar.

7. Ada baiknya bila calon terwaralaba dapat melihat lebih dulu contoh kontrak yang akan disetujui.

8. Estimasi profit / keuntungan dan bahkan estimasi kerugian yang diproyeksikan dengan realistis.

9. Batasan-batasan yang diberlakukan oleh pewaralaba untuk kegiatan operasi dan keuangan.

10. Adanya target penjualan ataupun omzet yang diterapkan pada terwaralaba.

11. Batasan-batasan untuk melakukan penyesuaian ataupun modifikasi terhadap system yang berlaku ataupun modifikasi terhadap jenis layanan dan produk.

12. Kebijakan akan pelatihan yang akan diberlakukan, periode dan frekuensinya, agar terwaralaba dapat memahami secara baik dan benar.

13. Seberapa besar dukungan yang dapat diberikan oleh franchisor dalam men-support kegiatan operasional rutin dari usaha franchise tersebut.

14. Adakah keperluan investasi tambahan yang signifikan untuk meng-update fasilitas ataupun peralatan di masa mendatang.

15. Adanya biaya-biaya tambahan yang diperlukan untuk mendapatkan fasilitas dan dukungan bagi operasional usaha waralaba di masa mendatang.

16. Pengalaman dan keahlian utama dari pendiri franchise dalam bidang usaha yang akan di-franchisekan.

17. Apakah lisensi franchise dapat ditransfer atau dijual kembali kepada pihak lain.

18. Persyaratan ataupun kondisi untuk mengakhiri sebuat kontrak waralaba.

19. Ketentuan mengenai ahli waris apabila pemegang franchise tidak mampu menjalankan usahanya.

20. Penghitungan pembayaran atau pembagian keuntungan yang rinci dan detail.

21. Kebijakan pewaralaba mengenai berapa banyak franchise yang diperkenankan dalam sebuah teritori, untuk menghindarkan persaingan antar terwaralaba.

22. Apakah jenis waralaba memerlukan dan telah ter-cover perlindungan hukum dan asuransi tertentu, misalkan untuk melindungi dari tuntutan warga dan hukum, sebagai contoh adalah pembuangan limbah yang beresiko mencemari lingkungan, ataupun kesalahan resep makanan yang berpotensi untuk mengganggu kesehatan konsumen.

Berbagai jenis waralaba dapat ditemui pada saat ini, berikut ini adalah beberapa jenis kategori usaha waralaba yang dapat menjadi pertimbangan utama, antara lain:
Makanan siap saji dan restaurant, antara lain: kedai penjualan hamburger, pizza, kentang goreng, friend chicken, kebab, kedai kopi, donat, es krim, ayam bakar, dll
Jasa: biro jasa, pemesanan tiket, travel agent, hiburan, rental vcd dvd, ink refill, real estate, dry cleaning, kursus anak (bahasa, menggambar, berhitung) dan jasa profesional lainnya.
Beberapa jenis usaha yang belum populer sebagai waralaba di dalam negeri, tetapi telah menjadi trend di luar negeri antara lain: jasa profesional akuntansi dan pembukuan, jasa legal/hukum, fasilitas kesehatan dan gigi, jasa konsultasi pemasaran dan arsitektur, jasa persewaan truk dan mobil, waralaba hotel dan motel, jasa penyediaan tenaga kerja profesional, home based advertising agency franchise, jasa kepengurusan imigrasi, jasa photography, dll.

Kerjasama waralaba melibatkan:
1. Hubungan yang berkesinambungan dalam jangka tertentu antara pewaralaba dengan terwaralaba.
2. Kontrak secara hukum yang menjelaskan hubungan usaha dan hak/kewajiban masing-masing pihak.
3. Penyerahan aset tertentu oleh pewaralaba sebagai dampak dari investasi yang diberikan oleh terwaralaba, baik aset nyata dan tak nyata.
4. Aktivitas usaha yang dilakukan atas nama pewaralaba dengan pengaturan dan standar mengenai prosedur kerja yang ditetapkan oleh franchisor.

Waralaba jadi-jadian
Demikian baiknya perkembangan bisnis franchise di Indonesia sehingga hampir setiap triwulan dapat dijumpai seminar, expo, ataupun eksibisi franchise, dan juga banyak dijumpai merk-merk franchise baru yang mulai ditawarkan, baik jenis usaha yang telah berjalan lama (established) dan mulai diwaralabakan, maupun perusahaan yang relatif baru dan memang direncanakan untuk dikembangkan dengan model franchise.
Namun pencari waralaba perlu menyikapi hal ini dengan bijaksana, khususnya terhadap franchise yang sangat baru dan belum dijalankan oleh banyak franchisee. Memang tidak selalu waralaba baru berarti resiko yang tinggi dan tidak menjamin keberhasilan, namun banyak unsur yang perlu ditelaah sebelum memutuskan menjalankan sebuah franchise yang memang baru ditawarkan.
Sekedar berbagi pengalaman, team redaksi kami pernah menyaksikan sendiri beberapa contoh waralaba baru yang telah established dan dikenal luas, yang kemudian membentuk divisi waralaba untuk mulai menawarkan lisensi bisnisnya kepada masyarakat, namun karena tampaknya kurang perencanaan dan koordinasi yang matang, sehingga mengakibatkan terpecahnya fokus antara pengembangan bisnis melalui waralaba dengan bisnis utama mereka sendiri, yang akhirnya malah mengakibatkan kemunduran bisnis utama perusahaan, terlebih lagi kondisi keuangan perusahaan yang memang sedang dalam posisi yang kurang baik saat keputusan menjual waralaba diambil, akibat kebijakan ekspansif perusahaan yang memakan dana yang tidak sedikit.
Sebagaimana dalam judul artikel ini kami menyebutnya sebagai waralaba jadi-jadian, karena memang seharusnya pada kondisi tertentu, pewaralaba sebaiknya tidak (atau miminal menunda) menjual lisensinya kepada masyarakat, sampai kondisi ideal tertentu tercapai dan dapat menawarkan program yang riil dan dapat dipertanggungjawabkan, bukan sebagai jalan keluar dari sebuah masalah yang dialami.
Sehubungan dengan hal ini, ada baiknya calon terwaralaba memperoleh info sebanyak mungkin mengenai kondisi usaha, keuangan, konsep bisnis, soliditas team pewaralaba. List kuesioner yang dapat ditanyakan kepada pewaralaba dalam rangka riset dan pengumpulan data dapat dibaca disini.

Didirikan oleh Raymond Albert Kroc (1902 - 1984), atau dikenal dengan nama singkat Ray Kroc. Merintis bisnis hamburger pada saat ia berusia 52 tahun, yaitu pada tahun 1954, dengan meyakinkan dua bersaudara Dick & Mac McDonald untuk membuka gerai siap saji untuk produk hamburger yang telah mereka jual sebelumnya.
McDonald's menjadi perusahaan publik di Amerika semenjak tahun 1965, dengan me-listing sekian ratus lembar saham dengan nilai hanya US$2.250 saja, yang hingga kini telah meningkat ribuan kali lipat baik dari jumlah saham maupun kapitalisasi pasar.
Di Asia Pasifik, timur tengah dan Africa, gerai waralaba mc Donald's memiliki lebih dari 7.000 gerai di lebih dari 34 negara, sementara di Eropa dapat ditemui lebih dari 6.000 gerai, dengan total lebih dari 30.000 gerai franchise di lebih dari 119 negara di dunia.
Iklan TV McDonalds mulai muncul pada tahun 1963, di saat tersebut komersial telah menampilkan maskot badut ber-rompi kuning dan kaus lengan panjang belang putih dan merah dengan rambut kribo berwarna merah yang selalu tersenyum, bernama Ronald McDonald yang hingga kini tetap menjadi maskot dari McDonald's dan disukai oleh anak-anak.
Menu fact: Big Mac mulai diperkenalkan pada konsumen pada tahun 1968
Temukan informasi franchise fast food lainnya disini

Pertanyaan-pertanyaan yang perlu disiapkan saat akan menjalankan bisnis waralaba:
1. Berapa banyak uang yang ada untuk diinvestasikan dalam sebuah bisnis franchise?

2. Berapa banyak jumlah uang yang dapat diatasi bila terjadi kerugian?

3. Apakah lebih baik menajalankan sebuah bisnis waralaba tersebut secara invidividu atau bersama partner lain?

4. Darimana sumber pendanaan untuk membeli lisensi franchise tersebut akan diupayakan? tabungan pribadi, pinjaman bank, pinjaman pada pihak lain, menjual aset lain?

5. Kegiatan usaha lain apa yang dapat dilakukan sebagai sumber pendapatan sampingan (atau utama) selain usaha franchise yang akan dilaksanakan?

6. Apakah franchise yang akan dibeli memerlukan keahlian pribadi dan pengalaman? Bila ya, apakah keahlian dan pengalaman yang diperlukan sesuai dengan minat dan keahlian Anda?

7. Apakah goal Anda akan sejalan dengan jenis usaha franchise yang akan dijalankan? dengan kata lain apakah bidang usaha waralaba yang dipilih mendukung pencapaian goal dalam hidup Anda?

8. Berapa jam waktu yang tersedia dan bersedia Anda luangkan untuk mengolah usaha, dan berapa banyak waktu yang diperlukan oleh usaha waralaba tersebut setiap harinya?

9. Apakah usaha waralaba tersebut memungkinkan untuk hadirnya seorang manajer yang menghandle aktivitas utama, atau haruskan Anda yang menangani operasional utama dalam bisnis waralaba tersebut?

10. Akankah usaha franchise tersebut akan bertahan dan berkembang dalam periode 15 tahun ke depan? (berapa lama product/service life cycle dari produk/jasa waralaba)

11. Seberapa besar resiko yang harus ditanggung dengan memilih sebuah franchise?

12. Apakah produk atau jasa yang ditawarkan dalam sebuah franchise betul-betul dapat memenuhi permintaan yang ada di pasar? Apakah kebutuhan tersebut primer, sekunder, tertier, atau bahkan seasonal?

13. Berapa banyak pesaing dengan kategori sejenis yang telah ada di pasar?

14. Seberapa besar pertumbuhan dari usaha waralaba yang Anda harapkan, dan berapa besar yang diproyeksikan oleh pewaralaba?

15. Pernahkan Anda bekerja ataupun memiliki usaha pada bidang yang akan Anda jalankan dalam bentuk franchise tersebut?

Calon terwaralaba (franchisee) diharapkan untuk tidak mudah terlena oleh penawaran-penawaran dan ketentuan dari sebuah franchise, dan waspada akan beberapa hal yang tidak dilakukan oleh franchisor antara lain:
1. Klaim bahwa produk dan jasa akan dapat dijual dengan sangat mudah, produk yang super laris, dan keuntungan luar biasa besar.

2. Diabaikannya minat dan kemampuan terwaralaba akan bidang usaha yang akan diwaralabakan.

3. Franchisor tidak dapat memaparkan rencana pengembangan jangka panjang dari bisnisnya.

4. Franchisor tidak meng-ekspos statistik dan laporan keuangan secara detail dan transparan.

5. Tidak terdapat aktivitas promosi ataupun beriklan yang memadai.

6. Minimnya support dari kantor pusat pewaralaba.

7. Kontrak yang tidak memadai dan cenderung merugikan.

8. Klaim untung sangat besar dengan investasi sangat minim.

9. Merk dari sebuah franchise yang secara gamblang meniru merk dari bisnis waralaba lainnya baik dari dalam maupun luar negri.

10. Ketidakmampuan franchisor untuk memaparkan laporan keuangan yang menunjukkan keberhasilan usahanya.

11. Tidak adanya informasi pimpinan (direktur utama atau eksekutif) yang jelas.

12. Kontrak yang diberikan tampak terlalu mudah dan bersifat jangka pendek (tidak meng-cover jangka panjang)

13. List testimoni yang sangat memuaskan bahkan berlebihan dari pelanggan ataupun terwaralaba lain.

14. Janji kembali modal yang sangat cepat dan tidak wajar.

15. Laporan keuangan yang tidak mencerminkan kondisi keuangan yang sesungguhnya.



Franchise lokal
Franchise business type: Mini Mart
Franchisee requirement: franchise data not available
Franchise capital investment: Rp 45 Jt
Head office address: PT Sumber Alfaria Trijaya, Jl MH Thamrin No 9 Cikokol Tangerang
Phone: 62 21 555 9776, 555 55966
Contact person: franchise data not available
peluang waralaba ayam bakar wong solo
Ayam Bakar Wong Solo
Paket Franchise
Wong Solo menawarkan paket Franchise selama 10 tahun (hak waralaba) dengan paket-paket sebagai berikut
1. Paket A 1.000.000.000 dengan kapasitas 200 seats
2. Paket B 800.000.000 dengan kapasitas 150 seats
3. Paket C 600.000.000 dengan kapasitas 125 seats
4. Paket D 400.000.000 dengan kapasitas lebih kurang 80 seats Paket E 50.000.000 (kaki lima)

Dana tersebut termasuk franchise fee 10 tahun, pembangunan rumah makan, pembelian peralatan, preparasi dan pra operasi (tidak termasuk sewa tanah) Rumah makan Wong Solo mengenakan royalti fee 6% dari penjualan setiap bulan
Address: Jl SMA 2 Padang Golf Polonia Medan
Phone: 061-7879061
Email address: wongsolo @ indosat.net.id

car franchise  - cipaganti car rental
Franchise business type: Car rental, Travel
Number of branches:
Franchise capital investment: Rp 50jt-1m
Available package: 2 alternative packages
Franchisee requirement:franchise data not available
Head office address:
- Jl. Jend. Gatot Subroto No. 94
Bandung - Jawa Barat.
Phone. 022 731 9498 (Hunting)
Fax. 022 733 3807
-Arteri Pondok Indah 60
Jakarta - DKI Jakarta.
Phone: 021. 720 4616 / 720 4766
Edward Forrer Shoes Franchise Opportunity
Franchise business type: Shoes Chain Store
Number of branches: over 50 outlets in Indonesia & Australia
Franchise capital investment: Rp 100jt - 900jt
Franchise fee: Rp 25jt - 100 jt
Franchise package: 4 alternative packages
Royalti fee: 5% from gross profit
Head office address: Jl.Veteran 44 Bandung, West Java - Indonesia - Franchise related office contact: Jl.Ir.H.Juanda No.151 Bandung
Phone: 0811248960

Contact franchise[at]jcodonuts.com

waralaba kebab turki baba rafi - franchise opportunity
Franchise business: Kebab counter
Franchiseeinvestment: Rp 50-80 jt
• Satu Unit Counter
• Alat Burner Kebab
• Paket perlengkapan counter
• Freezer Box
• Paket promosi usaha ( Neon Box, Banner, dll )
• Bahan baku produksi pemakaian rutin
• System operasional yang sudah terbukti
• Training Karyawan
• Quality Control dan maintenance
• Asistensi survey lokasi
• Manual Book (Standart Operational Procedure)
• Software Keuangan
• Masa Kerjasama Selama 5 Tahun
Head office address: Ruko Manyar Garden Regency Kav.30
Jl. Nginden Semolo 109 Surabaya
Phone : +6231-5999712 / +6231-5992423
Fax: +6231-5992423 / +6231-5952291
Hotline: +628123-580-791, +6231-7064-1912

klenger burger
 franchise
Franchise business type: Burger Counter
Franchise fee: Rp 25jt
Capital investment: Rp 85jt (termasuk fee)
Head office address: Jl. Raya Pekayon no. 31 Telp/Fax : +6221 8216450 Bekasi Selatan INDONESIA
Phone: 0817 6681551

papa rons pizza franchise
Franchise business type: Pizza, Pasta
Number of branches: 40 locations nationally
Franchise capital investment: US$ 168,000 - 270,000 plus $ 25.000 for franchise license (10 years)
Head office address: Jl. Pondok Pinang Center Blok C 46-48
Phone: 62 21 7591 5031
email: hidayat [at] paparonspizza.com
Franchise business type: Education - Course
Number of branches: 400 locations nationally
Franchise fee: Rp 150jt
Available package: franchise data not available
Franchisee requirement: 150m2 with minimum 6 rooms for class activity
Head office address: Graha Primagama
Jl. Diponegoro 89 Yogyakarta 55281
Phone: +62 274-520418,520419 email : info @ primagama.co.id
Contact person: Mohammad J. Prasetya

Franchise business type: Busana Muslim
Number of branches: 50 counters
Franchise capital investment: Rp 50 million
Head office address: Jl Buah Batu 165 B - Bandung
Phone: 62 22 7316301

Franchise business type: Gown & Bridal
Franchise fee: Rp 175Jt untuk 5 tahun
Head office address: Muara Karang E IV Timur no 50
Phone: (021) 661 0977
Contact: info [at] yohannesbridal.com
Franchise business type: Mini Mart
Franchisee requirement: franchise data not available
Franchise capital investment: Rp 201Jt - Rp 276Jt
Head office address: Jl Jakarta 48 Bandung
Phone: 62 22 720 8220, 0811232689, 08122002369, 08562262942


Format Waralaba
Franchise baru atau lama (established)?
Pergeseran trend konsumsi Fast Food
Hal-hal yang perlu ditanyakan kepada pewaralaba
Point-point kesuksesan usaha waralaba
Hal mendasar mengenai Waralaba
Hal yang perlu diperhatikan saat memilih Waralaba
Kategori Waralaba populer
Kerjasama Waralaba
Waralaba jadi-jadian
McDonald's Franchise History
Pertanyaan-pertanyaan sebelum memutuskan sebuah Waralaba
Hal yang perlu diwaspadai saat memilih Franchise
Diposting oleh ARIP PRASETYO OK
M@XGNET
Ilmu bisnis dari para narasumber (Ir. Ciputra, H. Alay, Eri Sudewo, Bob Sadino, Sandiaga Uno, Naomi Susan, Purdie E. Chandra) saat acara Milad IV komunitas Tangan Di Atas (TDA) di Jakarta yang luarbiasa tersebut hanya akan saya sajikan poin-poin pokoknya, namun saya yakin kawan-kawan saya yang luar biasa pasti sudah bisa menangkap maknanya.

IR. CIPUTRA:

1. Kalau anda tidak punya “iman” atau keyakinan, anda tidak bisa sukses.
2. TDA harus memberikan pelatihan entrepreneurship. Jangan hanya menyuruh orang berenang tanpa mengajari cara berenang.
3. Enterpreneur bukan dari turunan, tapi dari disiplin yang bisa dipelajari.
4. Seorang entrepreneur bisa mengubah sampah & kotoran menjadi emas.
5. Anda pasti bisa menjadi world class entrepreneur kalau
rajin mengikuti pelatihan. Jadilah world class entrepreneur by design & by training
6. Jangan puas berenang di kolam kecil, jadilah juara renang di laut lepas. Anda bisa

H. ALAY:

1. Barangsiapa menguasai bahasa suatu kaum, ada peluang menjadi raja kaum itu.
2. Bagi seorang entrepreneur, setiap apa pun yang terjadi, apa pun yang ditemui, adalah peluang.
3. Tidak ada lawan bisnis. Yang ada adalah mitra bisnis (walaupun core bisnisnya sama).
4. Berbisnislah dengan nurani dan yakinlah pertolongan Allah.

ERI SUDEWO:

1. Kalau mau jadi world class entrepreneur tidak perlu capek-capek melihat ke mana-mana, konsen saja pada kualitas produk sendiri.
2. Disiplin, disiplin, disiplin. Anda tidak bisa sukses kalau tidak bisa mendisiplinkan diri sendiri.

SANDIAGA UNO:

1. Just do it. Tekun. Teliti. Belajar dari kesalahan. Tidak pernah menyerah.
2. Memulai usaha itu tidak pernah mengenai modal. Modal itu urusan ke-5, ke-6, ke-10.
3. Jangan takut serbuan produk China. Produk kita mampu bersaing.
4. 12 th terakhir ekonomi Indonesia tumbuh pesat. Kalau tidak ada sesuatu yg fatal, tahun 2010 Indonesia akan jadi 10 besar negara ekonomi terkuat. Jumlah kalangan menengah-atas akan tumbuh pesat. Jadi jangan berpikir membuat produk-produk murah (an) untuk menyaingi produk China.
5. Keterbatasan- keterbatasan itu tidak ada, kitalah yang menciptakannya di dalam kepala kita.
6. Mimpilah jadi nomor satu, kalaupun meleset masih jadi tiga besar.
7. Perusahan-perusahaa n besar punya ciri khas: fokus, tekun dalam bidangnya, dan mengalahkan saingan-saingannya.
8. Kalau jadi karyawan kita tidak mungkin bisa “membaca ke depan”. Hanya pengusaha yang bisa melakukannya.

NAOMI SUSAN:

1. Utang/keterbatasan memiliki kekuatan: memotivasi kita segera keluar dari masalah. So, be negative!
2. Seringkali ide bisnis baru yg luar biasa justru jadi bumerang.
3. Harus selalu menerapkan profesionalisme, jangan personalisme.
4. Ada yg bilang bisnis itu susah? Mulailah dari yang mudah! Bisnis itu rumit? Lakukan bisnis yang sederhana! Bisnis butuh modal banyak? Lakukan bisnis bermodal kecil. Menjadi pebisnis harus berpendidikan tinggi? Orang tidak berpendidikan pun bisa berbisnis. Berbisnis harus punya keahlian? Tidak selalu. Pebisnis harus bekerja keras? Siapa suruh?!
5. Terkait no 4 Bu Naomi memutar video bisnis Bu Icih, “pedagang ndheprok” sate cecek/kikil di Pasar Baru. Sehari Bu Icih bisa menjual sate cecek 1.000 tusuk @ Rp 1.000 plus aneka kue & gorengan. Khusus ttg sate cecek, dari 1 kg cecek seharga Rp 15.000 plus biaya bumbu dll Rp 5.000, dapat dihasilkan 100 tusuk sate cecek. Silakan hitung sendiri berapa keuntungan Bu Icih sehari? Sebulan? Setahun? Contoh bahwa bisnis itu mudah, sederhana, bisa dilakukan siapa saja, tidak butuh modal banyak, untungnya besar!
6. Buat rencana bisnis. Amankan modal. Potong biaya. Dapatkan laba tunai (non piutang). Pelihara pelanggan produktif. Tuai referral. Lakukan iklan & promosi. Manfaatkan koneksi. Bentuk system. Bersikap fleksibel.
7. Miracles are only for the braves.
8. Opportunity is nowhere now, here.

BOB SADINO:

1. Jangan sebut istilah UKM, nanti mindset-nya kecil terus. Ganti istilah UKM dengan UBB (Usaha Bakal Besar).
2. Saya berbisnis tanpa rencana, tanpa tujuan, tanpa kerja keras.
3. Saya mulai bisnis tanpa rencana. Begitu mulai bisnis, merencanakan apa yang dilakukan sehari besok. Cukup sehari ke depan.

PURDIE E. CHANDRA:

1. Jadi pengusaha gak harus pintar sekolahnya. Kalo bisa IP-nya < 3. Gak lulus gak apa-apa. Orang pinter biasanya penakut, terlalu banyak berhitung-hitung.
2. Pakai otak kanan. Kreatif. Meloncat-loncat. Intuitif.
3. Cara paling gampang mengembangkan otak kanan, pakai teknik 9A: action, action, action, action, action, action, action, action, action!
4. BISNIS = Berani Investasi Sedekah Nekad InsyaAllah Sukses.
5. BOSS = Berani Optimis Sedekah Selamanya
6. Anak kecil bisa berjalan karena tidak takut resiko. Jangan pernah berpikir ingin meminimalkan resiko.
7. Berzakatlah lebih dari 2,5%. Kelebihannya merupakan “indent” untuk rezeki berikutnya.
8. Menciptakan masa depan itu dengan pola pikir masa depan, bukan dengan pola pikir masa sekarang, apalagi masa lalu.
9. Harus berani utang, makin banyak makin baik, biar makin banyak yang mendoakan usaha kita berhasil


Jurus Orang untuk cepat Sukses dengan menggunakan Faktor Kali

Menurut buku financial Revolution karangan Tung Desem Waringin, beliau mengatakan kalau orang kaya itu dalam mengumpulkan uang, bisa ribuan kali lebih banyak daripada orang biasa dalam waktu yang sama, karena mereka menggunakan Faktor kali. Faktor kali ini dapat mendongkrak nilai tambah kita dalam waktu seketika, sehingga kita bisa menyediakan bagi orang yang membutuhkannya. Untuk mengetahui hebatnya faktor kali itu, mari kita lihat bersama-sama angka-angka dasar yang bisa membuat seseorang bisa mempunyai uang Rp. 10 Milliar :

1. Menjual sesuatu kepada seseorang dengan untung Rp. 10 Milliar.
2. Menjual kepada 10 Orang dengan untung @ Rp. 1 Milliar.
3. Menjual kepada 100 Orang dengan untung @ Rp. 100 Juta.
4. Menjual Kepada 1000 Orang dengan untung @ Rp. 10 Juta.
5. Menjual kepada 10.000 Orang dengan untung @ Rp. 1 Juta.
6. Menjual kepada 100.000 orang dengan untung @ Rp. 100 Ribu.
7. Menjual kepada 1.000.000 orang dengan untung @ Rp. 10 Ribu.
8. menjual kepada 10.000.000 orang dengan untung @ Rp. 1000.
9. Menjual kepada 100.000.000 orang dengan untung @ Rp. 100.
10. Menjual kepada 1.000.000.000 orang dengan untung @ Rp. 10.
Atau
1. Menjual kepada 1 orang dengan untung @ Rp. 1 Milliar sebanyak 10 kali.
2. Menjual kepada 10 orang dengan untung @ Rp. 100 Juta sebanyak 10 kali.
3. Menjual kepada 100 orang dengan untung @ Rp. 10 Juta sebanyak 10 kali.
4. Menjual kepada 1000 orang dengan untung @ Rp. 1 Juta sebanyak 10 kali.
5. Menjual kepada 10.000 orang dengan untung @ Rp. 100 ribu sebanyak 10 kali.
Atau
1. Menjual kepada 1.000 orang dengan untung @ Rp. 100 ribu sebanyak 100 kali.
2. Menjual kepada 10.000 orang dengan untung @ Rp. 10 ribu sebanyak 100 kali.
3. Menjual kepada 100.000 orang dengan untung @ Rp. 1.000 sebanyak 100 kali.

Ilustrasi: Cerita sukses tak selalu bermula dari ide besar. Banyak
 sukses yang justru lahir dari gagasan sepele. Ada juga yang menangguk 
untung besar lantaran kelihaiannya mengadopsi dan meniru temuan orang 
lain. Tetapi tak sedikit juga yang meraih sukses karena keberaniannya 
menanggung risiko dan kreativitasnya dalam melakukan inovasi terhadap 
sesuatu yang sudah ada. (foto: google)
Ilustrasi: Cerita sukses tak selalu bermula dari ide besar. Banyak sukses yang justru lahir dari gagasan sepele. Ada juga yang menangguk untung besar lantaran kelihaiannya mengadopsi dan meniru temuan orang lain. Tetapi tak sedikit juga yang meraih sukses karena keberaniannya menanggung risiko dan kreativitasnya dalam melakukan inovasi terhadap sesuatu yang sudah ada. (foto: google)
Penyebab-Penyebab Kegagalan dalam Berbisnis
Setiap orang tentunya tidak ingin gagal dalam semua aspek kehidupan apalagi masalah bisnis. Tetapi, semua adalah sebuah proses menuju keberhasilan. Kita juga harus menyadari bahwa Bisnis yang gagal adalah sebuah kewajaran. Akan tetapi, tentunya ada factor yang menimbulkan kegagalan tersebut. Untuk mengetahui lebih dalam apa saja faktor-faktor kegagalan dalam berbisnis, di bawah ini kami cantumkan serangkaian faktor-faktor yang dapat menyebabkan kegagalan dalam berbisnis:
Pertama:
“Rencana strategi yang tidak realistis”.
Kedua:
“Layanan pelanggan yang buruk”.
Ketiga:
“Marketing yang tidak memadai”.
Keempat:
“Pelatihan karyawan yang buruk”.
Kelima:
“Pengeluaran yang berlebihan”.
Keenam:
“Pencatatan keuangan yang buruk”.
Ketujuh:
“Tidak ada cadangan tunai atau modal kerja.”
Kedelapan:
“Masalah Pajak.”
Kesembilan:
“Kurangnya pengetahuan bisnis”.
Cerita sukses tak selalu bermula dari ide besar. Banyak sukses yang justru lahir dari gagasan sepele. Ada juga yang menangguk untung besar lantaran kelihaiannya mengadopsi dan meniru temuan orang lain. Tetapi tak sedikit juga yang meraih sukses karena keberaniannya menanggung risiko dan kreativitasnya dalam melakukan inovasi terhadap sesuatu yang sudah ada.
Dalam bukunya, Emily Ross & Angus Holland mengisahkan hal ini cukup menarik. Ia juga memilah-milah kisah sukses atas dasar sejarah dan kecenderungannya, sehingga mempermudah pembaca untuk memahami. Sebagai contoh adalah kisah-kisah sukses yang diaraih karena kekuatan adaptasi modelnya. Ross & Holland menyebutkan Starbucks yang berevolusi dari hanya sebuah toko penjual biji kopi, dan Coca Cola yang berjaya setelah dikemas dalam botol.
Keberanian mengambil risiko oleh para kreator dan inovator juga menjadi kisah tersendiri. Keberhasilan Apple menjadi salah satu contoh besarnya. Sang penemu, Steve Wozniak, sempat ditolak ketika mengajukannya ke Hewlett-Packard (HP). Ia kemudian menyodorkannya kepada Steve Jobs yang kemudian menjadi mitranya. Dengan modal uang dari hasil menjual mobil VW milik Wozniak dan kalkulator HP milik Jobs, mereka membiayai desain pertama Apple saat Jobs berusia 21 tahun dan Wozniak lima tahun lebih tua. Siapa sangka kalau kini Apple menjelma menjadi sebuah usaha besar di dunia.
Sementara itu banyak juga sukses besar yang bermula dari gagasan sepele. Liquid Paper adalah salah satu contohnya. Produk ini bermula dari kebingungan sang penemunya, Bette Graham. Saat itu, seorang ibu yang bekerja sebagai sekretaris ini kerap stres lantaran pekerjaannya dalam mengetik. Bayangkan, bagaimana pusingnya dia ketika harus membuat hasil ketikannya rapi dan bersih, sementara ketikannya kerap salah.
Suatu ketika tanpa sengaja dia melihat seorang tukang cat sedang mengecat tengah mengecat. Tukang cat itu ternyata tak sengaja menodai hasil kerjanya. Untuk membersihkannya, pengecat itu kemudian menimpa noda itu dengan cat putih.
Dari situ, Graham terpikir untuk melakukan hal serupa. Dia mencoba menggunakan cat tempera putih berbahan dasar air dan kuas tipis untuk menutup kesalahan ketiknya. Ternyata berhasil. Pada tahun 1957 ketika teman-temannya mengetahui hal ini, Graham mulai mengomersialkan, hingga mampu menjual sekitar 100 botol per bulan. Hebatnya, 15 tahun kemudian, perusahaan yang didirikan berhasil menjual sedikitnya lima juta botol per tahun.
Yang tak kalah menarik adalah sukses besar yang terjadi karena kecerdikannya dalam mengadopsi ide orang lain. Contohnya Dietrich Mateschitz yang mengubah tonik menyehatkan asal Thailand, si kerbau air merah alias Krating Daeng, menjadi manis dan berbuih yang cocok untuk orang-orang Austria. Ia lantas mengemasnya lebih menarik dalam kaleng ramping, dan memberinya merek Red Bull. Dengan klaim sebagai ‘minuman cerdas’ yang mampu meningkatkan kinerja seseorang, Red Bull menangguk sukses besar. Padai tahun 2006, penjualannya mencapai 3,5 miliar dolar AS, dan kini diperkirakan jauh melebihi angka itu.
Sukses juga bisa terjadi pada seseorang yang memiliki kemampuan berinovasi dan melakukan eksekusi lebih baik terhadap ide yang sudah ada. Michael Dell adalah salah satu contohnya. Ia berhasil menembus industri yang memuja inovasi tanpa membuat inovasi dengan tangannya sendiri. Dia mulai membangun komputer rakitan di kamar kosnya dan menjualnya dengan harga relatif murah melalui pos. Kini, siapa tak kenal komputer Dell?
Langkah sama terjadi pada Sergey Brin dan Larry Page. Ia melakukan inovasi yang serupa, sehingga Google-nya kini sukses menyaingi mesin pencari yang lebih dulu ada, seperti Yahoo!, Alta Vista, dan Lycos.
Dalam buku ini juga diungkapkan tentang para penemu yang kurang beruntung. Sebaliknya keuntungan justru dinikmati orang lain. Salah satu contoh adalah Coco Chanel. Ketika parfum pada umumnya dibuat dengan satu jenis bunga, Coco menemukan ramuan parfum yang luar biasa: hasil perpaduan beberapa jenis bunga yang kemudian menghasilkan Chanel No. 5. Tapi sayang, akibat kesulitan modal, Coco haus berkongsi dengan keluarga Pierre Wertheimer, yang mempunyai infrastruktur untuk memproduksi parfum berskala besar. Hasilnya? Keluarga Wertheimer yang justru menikmati kekayaan, bahkan hingga cucunya yang sekarang.
Seratus jurus sukses yang diungkapkan dalam buku ini bisa menjadi inspirasi bagi pembaca, bahwa sukses besar bisa terjadi pada siapa saja dan dengan cara apa saja. Yang penting adalah ketekunan dan keberanian dalam menghadapi risiko.
Diposting oleh ARIP PRASETYO OK Label:
M@XGNET

Pengertian Disiplin Diri

Sebelum beranjak pada pembahasan inti  yaitu cara/tips yang dapat digunakan untuk melatih diri menjadi lebih disiplin, kita harus mengenal dahulu apa itu yang disebut disiplin. Banyak sekali dari kita yang mengerti dan paham disiplin tapi ketika ditanya tentang arti disiplin mereka agak kebingungan. Disiplin diri adalah sikap patuh kepada waktu dan peraturan yang ada. Dari pengertian diatas kita  dapat menyimpulkan bahwa disiplin itu mengandung  dua makna yaitu patuh waktu dan juga peraturan atau tata tertib.
Patuh pada waktu, tentunya kita sering mendengar kata disiplin waktu. Disiplin memiliki arti demikian ketika kita dihadapkan pada waktu dalam melakukan sesuatu artinya dalam melakukan sesuatu tersebut kita memiliki sebuah tanggungjawab kepada waktu. Contoh realnya seperti ini, sebagai pelajar kita tentu mengetahui  jam masuk sekolah kita sehingga kita sebisa mungkin untuk datang ke sekolah lebih awal agar tidak terlambat. Dari contoh tersebut kita dapat mengetahui kalau seorang  pelajar yang disiplin itu memiliki tanggung jawap pada waktu yang berupa jam masuk sekolah.
Patuh pada tata tertib atau peraturan, di sekolah sebagai pelajar tentunya kita telah mengetahui tata tertib sekolah. Di lingkungan masyarakat kita juga telah mengenal itu norma. Di dalam keluarga juga dapat di temui sebuah aturan meskipun biasa tak tertulis. Disiplin memiliki arti demikian ketika dihadapkan kepada peraturan peraturan atau tata tertib saat ingin melakukan sesuatu. Setiap peraturan  itu bersifat mengikat artinya siapapun yang berada pada lingkungan yang memiliki suatu peraturan  secara tidak langsung orang tersebut memiliki tanggung jawab pada peraturan tersebut. Ketika orang tersebut mematuhi  peraturan tersebut maka ia telah bersikap disiplin dan ketika berbuat sebaliknya dia telah berbuat tidak disiplin dan akan dikenai sanksi sesuai aturan yang berlaku.
Kedua makna ini harus dipenuhi oleh setiap orang jika ingin disebut telah memiliki sikap disiplin diri. Sikap disiplin diri ini merupakan sebuah sikap kebiasaan, artinya sesorang  yang telah terbiasa disiplin akan mudah untuk berlaku disiplin dimanapun dia berada tetapi ketika seseorang tersebut tidak terbiasa maka dia juga akan sulit untuk berlaku disiplin dimanapun itu.

PEMIMPIN HARUS MEMILIKI DISIPLIN

(Taken from Bill Newman, The 10 Laws of Leadership)
Berdasarkan suatu data statistik, banyak pemimpin besar meraih keberhasilan dalam pekerjaan dan kehidupannya melalui seperangkat hukum kepemimpinan yang mendetail dan merupakan prinsip-prinsip yang telah diujicobakan.
Bill Newman punya 10 hukum Kepemimpinan. Hukum pertama adalah Pemimpin Memiliki Visi, sedangkan Hukum Kedua adalah :

PEMIMPIN MEMILIKI DISIPLIN.
Di dunia ini berlaku hukum tak tertulis, apakah kita akan mendisiplinkan diri sendiri atau akan didisiplinkan oleh orang lain. Keberhasilan yang berlangsung terus-menerus tidak bisa diraih tanpa disiplin, ketekunan, dan usaha. Disiplin merupakan mandat bagi pemimpin untuk meraih tujuan dan
visi-visinya.
Salah satu kesalahan besar generasi kita adalah tidak terlalu menghargai pentingnya kedisiplinan. Banyak orang terpengaruh oleh budaya yang cenderung menolak segala bentuk pengekangan, dan mengikuti dorongan alami diri kita untuk bersikap santai. Kita dengan mudah melupakan fakta bahwa segala sesuatu dalam hidup tidak mungkin diraih tanpa disiplin.
Sangat sering terjadi seorang pemimpin meraih sukses pada tingkat tertentu, dan kemudian berhenti dan kehilangan semangat bertarung. Mereka harus kembali pada titik start mereka. Ini dikarenakan mereka kehilangan milik mereka yang berharga, yaitu, kedisiplinan diri.
God Bless Us Forever !!!
(Compiled by Fuzna Marzuqoh).

Disiplin dalam pengertian yang amat dasar ada dua.
1) Ketaatan pada tata tertib,
2) Latihan batin dan watak dengan maksud akan mentaati peraturan .
arti disiplin adalah kepatuhan seseorang dalam mengikuti peraturan tata tertib, karena didorong oleh adanya kesadaran yang ada pada hatinya.

Dilihat dari sudut pandang sosiologis dan psikologis, disiplin adalah suatu proses belajar mengembangkan kebiasaan–kebiasaan, penugasan diri, dan mengakui tanggung jawab pribadinya terhadap masyarakat, Maka kedisiplinan anak didik dalam mengikuti suatu kegiatan pun akan menimbulkan sikap tanggung jawab, atau disiplin dalam menghadapi pelajaran atau dalam belajarnya.

dgn demikian indikator disiplin belajar dapat dilihat dalam proses belajar dan hasil belajar....

dalam proses belajar indikatornya bisa di lihat dari...
- kehadiran di kelas
- motivasi belajar
- partisipasi dalam kelas

indikator hasil belajar..
- nilai ulangannya tuntas.....mencapai SKBM( Standar Ketuntasan Belajar Minimal)


Disiplin itu indah

Disiplin tentu saja harus ditampilkan disetiap waktu. Bukan hanya dikala ada pengawasan dari atasan,orangtua,guru atau pimpinan saja. Disinilah sekali lagi-pentingnya kesadaran dan keikhlasan dalam menjalankan disiplin.

Sebagai contoh seseorang pengemudi kendaraan bermotor yang disiplin begitu naik kendaraan secara otomatis ia memasang sabuk pengamanan. Dia bukan saja menyadari bahwa memakai sabuk pengamanan adalah suatu kuwajiban yang diatur oleh undang-undang tetapi dia juga sadar bahwa memakai sabuk pengamanan adalah demi keselamatan dirinya manakala terjadi kecelakaan lalu lintas.

Demikian halnya pengendara sepeda motor. Begitu naik sepeda motor maka secara otomatis dia memakai helm pengamannya karena dia sadar bahwa helm pengaman akan melindungi kepalanya dari benturan hebat antara kepala dengan aspal jika terjadi kecelakaan. Dia memakai helm pengamanan bukan takut kepada polisi lalu lintas. Baginya ada atau tidak ada polisi lalu lintas yang mengawasi helmnya akan tetap dipakai.

Ada contoh klasik tentang pengamalan disiplin. Seorang perokok berat terpaksa harus mengantongi debu rokok dan puntungnya karena disekitarnya tidak tersedia kotak sampah. Walapun tidak ada yang melihat dia tidak mau membuang puntung rokok sembarangan.

Kapan disiplin mulai ditanamkan dan dibina ??
Para orang tua harus menanamkan disiplin secara dini kepada putra-putrinya. Metodenya tentu disesuaikan dengan usia dan tingkat pemahaman anak terhadap suatu masalah.
Pada usia balita tentu tidak mungkin diberi nasihat yang bertele-tele sehingga sukar dicerna. Pemberian latihan dan contoh-contoh tentu akan lebih mudah diresapi dan akhirnya akan diikuti si anak. Si kecil yang setiap bangun tidur dilatih untuk menggosok gigi sambil diberi contoh tentu akan mudah melekat dibenaknya daripada diberikan penjelasan yang sulit dicerna oleh otaknya.

Pendek kata,penanaman disiplin, pembinaan dan pengawasan disiplin dilakukan secara terus menerus dengan menggunakan metode yang tepat.

siapa yang terlibat dalam masalah disiplin ?

Ada banyak pihak yang terlibat langsung dalam masalah disiplin.

1. Setiap individu. Setiap pribadi-pribadi tentu harus memiliki disiplin pribadi yang baik agar kehidupan pribadinya menjadi tertib. Disiplin pribadi yang baik akan menjadi modal utama bagi terwujudnya disiplin dalam keluarga dan berturut-turut akan berpengaruh terhadap terwujudnya disiplin nasional.

2. Orang tua. Orang tua selain harus memiliki disiplin pribadi yang baik juga berperan sebagai pembina dan pengawas disiplin dilingkungan keluarganya. Mustahil orang tua dapat melakukan peran tersebut jika diri mereka sendiri tidak disiplin.

3. Pimpinan. Setiap pimpinan instansi baik dilingkungan sekolah, lingkungan pemukiman, lingkungan kerja pada hakekatnya adalah pembina dan pengawas disiplin bagi individu yang ada dalam lingkungannya. Seorang kepala sekolah, rektor dengan dibantu para staf dan para guru/ dosen wajib melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap murid-murid/ mahasiswanya.

Dilingkungan TNI dan Polri ada para komandan yang mempunyai peran sebagai pemimpin, guru dan sekaligus bagi bapak. Mereka dengan dibantu oleh staf terkait melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap anggota bawahannya. Selain itu para komandan juga dibantu oleh badan khusus yang membidangi pengawasan dan penegakan disiplin dan tata tertib misalnya Inspektorat Jenderal/ Inspektorat, Polisi Militer dan Provoost Satuan.

Ada juga instansi yang mempunyai organ khusus semacam Badan Kehormatan yang bertugas menjamin bahwa displin karyawan atau anggota instansi bersangkutan tetap terpelihara dengan baik.



Bagan ini mempersembahkan dan mengungkapkan enam bagian pikiran yang memiliki kemampuan untuk mempertahankan kedisiplinan dengan mudahnya.



Bagian-bagian ini dinomori sesuai peran penting masing-masing, meski siapa pun tidak mungkin memastikan bagian mana yang lebih penting daripada yang lainnya, karena masing-masing bagian adalah faktor esensial dalam mengekspresikan pemikiran.
Kami tak punya pilihan selain menempatkan ego, tempat bersemayamnya kekuatan-kehendak, dalam posisi pertama.

Pasalnya, Kekuatan-kehendak (ego) bisa mengendalikan seluruh bagian pikiran lainnya, dan wajar jika disebut “Mahkamah Agung” nya pikiran, yang keputusannya bersifat final dan bukan menjadi target mahkamah tinggi mana pun.

Fakultas emosi menempati posisi kedua lantaran sudah menjadi rahasia umum bahwa kebanyakan orang dikendalikan oleh emosi mereka. Karena itulah fakultas ini berada di bawah “Mahkamah Agung”.

Fakultas nalar menempati posisi ketiga karena memiliki efek memodifikasi yang menyiapkan aksi emosional untuk dimanfaatkan secara aman. Pikiran yang “seimbang” adalah pikiran yang mewakili suatu kompromi antara fakultas emosi dengan fakultas nalar. Kompromi ini biasanya dijalankan oleh “Mahkamah Agung”, tepatnya fakultas kehendak.

Fakultas kehendak kadang memutuskan emosi mana yang berlaku. Di kali ini, ia berpihak pada fakultas nalar, tetapi dialah yang memberi kata akhir. Dan ke bagian mana pun ia berpihak berarti bagian itulah yang dimenangkan dalam perselisihan antara nalar dengan emosi.

Betapa luar biasanya sistem ini!

Fakultas imajinasi mendapat posisi keempat karena ia adalah bagian yang menciptakan ide, rencana, juga cara dan alasan untuk mencapai tujuan, yang kesemuanya diilhami oleh fakultas emosi atau fakultas kehendak.

Barangkali anda berpendapat bahwa fakultas imajinasi berfungsi sebagai “komite cara dan sarana” bagi pikiran. Akan tetapi, tidak jarang fakultas ini bertindak sendiri dan melakukan eksplorasi fantastis di tempat-tempat yang tak memiliki kaitan absah dengan fakultas kehendak. Dalam perjalanan atas dorongan sendiri ini, imajinasi sering kali berperan penuh, bekerja sama, dan mendorong emosi. Itulah sebabnya mengapa semua keinginan yang berasal dari fakultas emosi harus dicermati benar oleh fakultas nalar, bahkan jika perlu dijaga ketat oleh fakultas kehendak.

Apabila emosi dan imajinasi lolos dari pengawasan nalar dan kendali kehendak, keduanya akan menyerupai sepasang bocah bandel yang memutuskan untuk bolos sekolah, dan bermain-main di kolam renang, atau mencuri semangka di kebun tetangga.
Tak ada kenakalan yang tak bisa dilakukan keduanya. Karena itulah, emosi dan imajinasi harus lebih didisiplinkan daripada fakultas-fakultas pikiran lain digabungkan menjadi satu. Camkanlah hal ini!

Dua bagian lainnya, kesadaran dan memori, harus bersatu. Dan meskipun penting, mereka berada di posisi terakhir dalam bagan di atas.

Sedangkan alam pikiran bawah sadar mendapat posisi di atas keenam bagian pikiran lainnya. Pasalnya, dialah jembatan penghubung antara pikiran sadar dengan Kecerdasan Tak Terbatas, dan medium yang memungkinkan semua bagian pikiran menerima kekuatan pemikiran.

Alam pikiran bawah sadar bukanlah objek pengendalian, melainkan objek yang dipengaruhi, dengan sarana yang telah dijelaskan. Ia bertindak sendiri, dan secara sengaja, meskipun tindakannya bisa dipercepat dengan mengintensifkan emosi, atau mengamalkan kekuatan kehendak dalam tingkat tinggi.

Keinginan kuat di balik Tujuan Utama yang pasti bisa mendorong aksi pikiran bawah sadar dan mempercepat kerjanya.


Belajar dari Pemimpin Tingkat Lima 

”Baik” adalah musuh dari ”Hebat”. Demikian yang dituliskan Jim Collins dalam bukunya Good to Great. Menurut Collins banyak orang sudah merasa puas dengan melakukan sesuatu yang baik, sehingga mereka berhenti berusaha untuk menjadi lebih baik, untuk akhirnya menjadi yang terbaik (hebat).

Tapi, tidak demikian dengan ”Pemimpin Tingkat Lima”. Mereka tidak berhenti berjuang untuk melakukan yang terbaik yang bisa mereka kerjakan, dan mereka tak akan berhenti untuk senantiasa berjuang untuk menghasilkan sesuatu yang paling baik (hebat). Siapa pemimpin tingkat lima yang dimaksud oleh Jim Collins? Apa yang mereka lakukan? Inilah yang akan dibahas lebih lanjut.

SIAPA PEMIMPIN TINGKAT LIMA?
Penelitian yang dilakukan Jim Collins dan timnya menunjukkan bahwa perusahaan yang dapat bertahan di posisi puncak untuk waktu yang lama (sekitar 15 tahun atau lebih), yaitu perusahaan yang berhasil melebihi prestasi pasar di industri yang ditekuni, umumnya dinakodai oleh para pemimpin tingkat lima, dengan karakteristik sebagai berikut.
Rendah hati. Jika pemimpin ”biasa” akan berusaha menarik perhatian dunia pada prestasi yang dilakukannya, dan berfokus pada diri sendiri, maka pemimpin tingkat lima melakukan yang sebaliknya. Mereka melakukan yang terbaik untuk banyak orang tanpa banyak bicara. Sedapat mungkin, mereka cenderung mengalihkan topik pembicaraan dari prestasi mereka kepada prestasi dan dukungan orang-orang di sekitar mereka. Mereka mengatakan bahwa orang-orang sekitar merekalah yang berperan lebih penting dalam meraih keberhasilan, seperti yang juga dilakukan oleh Sam Walton, CEO dari Walmart. Kerendahan hatinya membuat Smith disayangi dan dihormati oleh karyawan, keluarga dan masyarakat.
Sederhana. Selain rendah hati, para pemimpin tingkat lima juga memilih untuk hidup sederhana yang berkecukupan (tak berlebihan). Mereka juga tidak menuntut untuk diperlakukan secara istimewa oleh orang-orang di sekitar mereka. Ken Iverson, CEO dari Nucor, tetap tinggal di rumahnya yang sudah ditinggalinya bersama keluarganya selama bertahun-tahun, ia juga hanya memiliki satu garasi, sesuai dengan kebutuhan keluarganya. Colman Mockler, CEO dari Gillette, lebih sering menghabiskan liburannya di perternakannya di luar kota dari pada berkeliling dunia. Pada saat bersantai di rumah, ia juga lebih suka memakai pakaian seperti orang kebanyakan, yang dibeli di pasar swalayan, atau toko rakyat.
Keyakinan kuat. Seorang pemimpin tingkat lima cenderung memiliki keyakinan untuk berhasil. Keyakinan kuat ini memompakan energi dan semangat luar biasa untuk berjuang meraih keberhasilan yang diyakininya tersebut. Masalah, hambatan, kesulitan, bahkan krisis ekonomi sekalipun tidak bisa mematahkan semangatnya untuk meraih keberhasilan. Panglima besar Sudirman merupakan salah satu contoh pemimpin tingkat lima dari Indonesia. Keyakinan kuat untuk mengusir penjajah, telah memompakan semangat tinggi bagi sang panglima untuk terus berjuang, walaupun sakit menyerang dan perang menghadang. Demikian juga dengan Abraham Lincoln, yang berkeyakinan bahwa manusia, siapa pun mereka memiliki derajat yang sama. Keyakinannya ini terus dipegang teguh, walaupun harus berhadapan dengan musuh dalam selimut, dan perang saudara. Akhirnya, keyakinan kedua pemimpin besar ini membawa mereka dan para pendukung, bahkan seluruh bangsa untuk menikmati kemenangan luar biasa.
Ambisi melakukan yang terbaik. Pemimpin tingkat lima selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk setiap pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. Terbaik di sini tentu saja bukan terbaik untuk dirinya sendiri, melainkan terbaik untuk banyak orang. Mary Kay Ash, ratu kosmetika dari Amerika Serikat tidak pernah puas untuk selalu melakukan yang terbaik dan mempersembahkan yang terbaik. Ketika masih menjadi pegawai di perusahaan lain pun, ia tidak menyerah pada kualitas pekerjaan rata-rata. Ia tidak akan berhenti, sebelum ia berhasil mempersembahkan karyanya yang terbaik. Sebagai seorang pemimpin perusahaan, Mary memberi teladan bagi para karyawannya untuk melayani pelanggan dengan kualitas produk dan layanan yang terbaik. Api ambisi untuk melakukan yang terbaik senantiasa dipelihara baik dalam dirinya sendiri, maupun dalam perusahaan agar tidak padam. Para pemimpin tingkat lima percaya bahwa keinginan kuat untuk selalu melakukan yang terbaik akan membuahkan inovasi dan perubahan positif.
Tegas dalam bertindak. Ketika seorang pemimpin tingkat lima telah memiliki keyakinan untuk berhasil, mereka tidak akan tinggal diam. Mereka akan bertindak untuk bergerak ke arah keberhasilan. Dalam bertindak, mereka tidak segan-segan untuk bertindak tegas, jika memang itu yang diperlukan untuk menyingkirkan akar permasalahan yang mengganggu perjalanan membawa para pendukung menuju sukses. David E. Smith, CEO dari Kimberly and Clark yang awalnya adalah perusahaan penghasil kertas berlapis untuk konsumsi perusahaan lain, berani mengambil keputusan yang sulit: menjual pabrik penghasil kertas berlapis yang menjadi inti bisnis Kimberly and Clark pada waktu itu, karena dianggap tidak memiliki potensi sukses di masa depan (walaupun pada saat itu, merupakan penghasil pendapatan utama bagi perusahaan. Ia membawa perusahaan untuk memfokuskan pada usaha memproduksi barang-barang konsumen dari kertas (seperti Klenex, dan popok bayi), yang dianggap memiliki potensi besar untuk meraih sukses masa depan. Keputusannya yang dicela habis-habisan oleh banya pihak, ternyata terbukti merupakan keputusan yang benar. Saat ini, Kimberly and Clark berhasil mengungguli para pesaingnya di lebih dari 50% produk barang-barang konsumen dari kertas.
Menabur untuk masa depan. Sebuah perusahaan bisa saja menjadi perusahaan terkemuka di satu saat di bawah pimpinan seorang CEO tertentu. Tetapi setelah sang CEO tidak lagi berkarya di sana, maka jatuhlah perusahaan tersebut. Pemimpin tingkat lima, tidak memikirkan keberhasilan sesaat, tetapi keberhasilan yang berkesinambungan. Semua keputusan yang diambil, selalu berorientasi pada keberhasilan yang berkesinambungan, sampai ke masa depan. Untuk itu, mereka tidak egois untuk menyimpan sendiri seluruh kepandaian, pengalaman dan keterampilan yang mereka miliki. Sejak mereka masih menjabat sebagai pemimpin, mereka telah menyiapkan calon-calon pemimpin masa depan, sebagai generasi penerusnya. David Maxwell, CEO dari Fannie Mae, sejak ia masih menjabat, telah mempersiapkan calon pemimpin berikutnya untuk mempertahankan keberhasilan yang telah diraih perusahaan di bawah pimpinannya. Tidak heran jika perusahaan ini merupakan perusahaan yang senantiasa membukukan sukses, walaupun pemimpin sudah berganti. Demikian pula dengan Mahatir Muhammad, mantan Perdana Menteri negara tetangga kita, Malaysia, yang telah menyiapkan dan membimbing calon pemimpin baru sebelum ia turun dari jabatannya.

APA YANG MEREKA LAKUKAN?
Setelah kita mengenal karakteristik dari pemimpin tingkat lima, selanjutnya kita tentu ingin tahu apa yang mereka lakukan untuk meraih keberhasilan.
Pilih orang dulu baru tentukan tujuan. Jika pemimpin biasa menentukan tujuan terlebih dahulu baru mengumpulkan orang, pemimpin tingkat lima melakukan yang sebaliknya. Mereka memilih dan mengumpulkan orang-orang yang tepat terlebih dahulu, sebelum akhirnya bersama-sama menentukan keberhasilan yang akan diraih. Orang-orang yang terbaik pada posisi yang tepat akan merupakan tim yang hebat untuk meraih sukses. Mereka tidak perlu lagi dimotivasi, karena mereka telah memiliki motivasi diri. Mereka tidak perlu terlalu diawasi, karena mereka telah memiliki sikap positif dan keterampilan tinggi, sehingga sang pemimpin bisa berkonsentrasi untuk mengatur kendali, dan memastikan bahwa arah pergerakan perusahaan yang dipimpin sudah benar. Jika, ternyata arah perlu diubah, para orang-orang pilihan tidak akan sulit menyesuaikan diri, karena mereka bersama-sama terlibat untuk meraih sukses. Hal ini juga diterapkan di perusahaan yang dipimpin oleh Ogilvy, si Raja Iklan. Ogilvy memilih orang-orang yang akan bekerja di perusahaannya dengan hati-hati. Dalam memilih, Ogilvy lebih memusatkan perhatian pada ”sikap” bukannya pendidikan, keterampilan, ataupun pengalaman. Dan ketika orang-orang terbaik dengan sikap yang positif sudah berhasil didapatkan, ia tidak segan-segan mengapresiasi mereka jauh lebih besar dari yang ditawarkan perusahaan lain.
Mengenali realitas tanpa kehilangan keyakinan untuk sukses. Pemimpin tingkat tinggi, senantiasa melihat pada realitas. Mereka juga tidak malu-malu mengakui kelemahan yang mereka miliki, kesulitan yang dihadapi, dan krisis yang harus ditanggulangi. Jika memang, mereka tidak mampu berprestasi (mempersembahkan yang terbaik) di satu bidang, maka mereka akan mengalihkan perhatian kepada bidang lain yang mereka yakini bisa unggul dibandingkan yang lain. Dari sekian banyak peluang yang kita temui, kita perlu memilih peluang yang paling tepat untuk mewujudkan impian kita. Ibu Teresa dari Kalkuta sadar bahwa ia tidak bisa sendirian membantu para fakir miskin di dunia, terutama di India, untuk itu, ia bersama-sama pendukungnya, banyak menggalang bantuan dari berbagai pihak untuk bersama-sama membantu mengatasi kemiskinan di berbagai negara. Kesulitan juga disadari oleh Ibu Kartini ketika beliau melihat perlakuan yang tidak adil terhadap para wanita di zamannya, yang tidak diperbolehkan mengenyam pendidikan lanjut, bahkan untuk sebagian besar wanita, tidak sempat mengenyam pendidikan sama sekali. Wanita dianggap sebagai pelengkap saja yang tidak perlu berkembang lebih jauh. Kesadaran akan realitas ini (penolakan masyarakat akan ide Kartini untuk membantu memberi pendidikan bagi wanita), tidak menyurutkan keyakinannya untuk mewujudkan impiannya untuk memberikan kesempatan berkembang bagi wanita. Melalui surat dan pertemuan-pertemuan dengan beberapa tokoh (baik pribumi maupun tokoh asing), Kartini berhasil menggalang dukungan untuk mendirikan sekolah puteri pertama di Indonesia.
Berjuang untuk menjadi yang terbaik. Jika kita tidak bisa menjadi yang terbaik di satu bidang, tinggalkan bidang tersebut, dan carilah bidang lain yang bisa kita jadikan pijakan untuk menghasilkan yang terbaik. Inilah sikap yang ditunjukkan oleh pemimpin tingkat lima. Mereka akan memilih bidang di mana mereka bisa mempersembahkan karya terbaik. Jika bidang pilihan sudah ditentukan, maka mereka akan berjuang gigih untuk tampil terbaik (untuk orang banyak, dengan dampak yang menjangkau waktu yang panjang, sampai ke masa depan) dalam semua tindakan, keputusan yang mereka ambil. David E. Smith sadar bahwa bisnis inti yang ditekuni oleh Kimberly and Clarks pada saat ia diserahkan tugas sebagai CEO, tidak memungkinkan perusahaan tersebut untuk berprestasi secara unggul dibandingkan para pesaing di industri yang lama. Dari kesadaran akan realitas ini, Smith tidak ragu-ragu untuk mengubah bisnis inti dari produsen kertas berlapis, menjadi produsen barang-barang konsumen yang terbuat dari kertas. Hasilnya? Luar biasa, sedikit demi sedikit, Kimberly and Clarks berhasil menundukkan lawan-lawannya di beberapa kategori produk.
Disiplin. Para pemimpin tingkat lima senantiasa menunjukkan kedisiplinan diri yang tinggi hampir di semua bidang. Mereka disiplin dalam waktu: dalam memenui target, deadline, maupun dalam mengatur keseimbangan kegiatan mereka di kantor, keluarga, dan masyarakat. Mereka juga disiplin dalam menerapkan prinsip-prinsip sukses yang mereka yakini (misalnya: prinsip untuk senantiasa melakukan yang terbaik). Romo Mangun, pejuang kaum papa, memiliki disiplin tinggi terhadap perjuangannya untuk menciptakan kesejahteraan bagi kaum yang kurang beruntung. Dalam menegakkan disiplinnya tersebut, ia tidak takut terhadap pihak mana pun, walaupun harus berseberangan pendapat dengan pihak-pihak tertentu. Demikian pula dengan pemimpin besar India, Mahatma Gandhi, yang tidak takut untuk berseberangan pendapat dalam menegakkan disiplinnya untuk berjuang bagi kepentingan rakyat, tanpa disertai dengan kekerasan fisik. Semua tantangan dihadapinya dengan berani dalam menegakkan disiplinnya memegang prinsip tanpa kekerasan tersebut.
Memanfaatkan Teknologi. Banyak pemimpin yang memanfaatkan teknologi untuk menciptakan perubahan. Mereka seringkali berakhir dengan ”dimanfaatkan” oleh teknolgi yang perkembangannya di luar kendali, seperti yang terlihat pada era booming-nya perusahaan-perusahaan dotcom. Ketika angin ”surga” di industri dotcom berhenti bertiup, maka yang tersisa adalah perusahaan-perusahaan yang dipimpin oleh pemimpin tingkat lima yang tidak sekedar ”ikut-ikutan” menggunakan teknologi baru. Para pemimpin ini memanfaatkan teknologi untuk mendukung kegiatan perusahaan untuk menjadi yang terbaik. Jika teknologi baru dirasa tidak menambah nilai secara signifikan bagi keberhasilan bisnis inti perusahaan, maka mereka tidak akan ”ikut-ikutan” mengadopsi teknologi baru. Mereka akan menciptakan teknologi sebagai fasilitas yang memperlancar usaha. Hal ini diterapkan oleh Michael Dell dari Dell computers (perusahaan yang memberi kesempatan bagi pelanggan untuk menentukan sendiri spesifikasi komputer yang akan dibeli, melalui internet), yang berhasil ”memanfaatkan” teknologi dengan cermat untuk mendorong pertumbuhan perusahaan secara berkesinambungan.
Berkembang dengan Roda Perubahan. Perubahan, walaupun merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sebuah pertumbuhan, selalu akan diawali dengan ketidaknyamanan. Para pemimpin tingkat lima sadar akan hal ini, sehingga mereka tidak menciptakan perubahan mendadak yang sangat menyakitkan dan yang kemungkinan besar akan berujung pada kegagalan (karena banyaknya kendala, dan penolakan dari banyak pihak). Sebaliknya, perubahan dijadikan sebagai sesuatu yang senantiasa ada (bagian dari budaya perusahaan). Perubahan dirancang dan diterapkan secara bertahap dengan tujuan untuk mencapai keberhasilan yang berkesinambungan. Andy Groove dari Intel sadar akan kekuatan dahsyat perubahan. Untuk itu, ia menyusun strategi bersama timnya untuk mengendalikan perubahan (bukannya dikendalikan oleh perubahan) dengan senantiasa memberikan kesempatan bagi karyawan untuk mempersembahkan inovasi baru, yang menjadi generasi baru produk-produk data elektronik yang dihasilkannya. Dengan strategi berkembang dengan mengendalikan roda perubahan ini, Groove bersama Intel berhasil mengungguli para pesaing, dan mencapai sukses yang berkesinambungan.
Jika semua orang di Indonesia memiliki kualitas pemimpin tingkat lima, maka dapat dipastikan, kita akan dengan cepat meraih keberhasilan yang berkesinambungan, dan menciptakan negara dengan rakyat yang hidup saling mendukung (bukan saling curiga ataupun memusuhi satu dengan yang lain), dan dalam suasana damai dan sejahtera (tidak bermusuhan, tidak saling menjegal dan tidak saling membunuh, seperti yang terjadi di beberapa tempat di Indonesia akhir-akhir ini). Apakah di Indonesia ada pemimpin tingkat lima? Jika ada, di manakah para pemimpin tingkat lima bersembunyi? Di mana ada keberhasilan berkesinambungan, dan tidak tampak satu orang yang menonjolkan diri sebagai ”pahlawan” maka di situlah ada pemimpin tingkat lima (demikian petunjuk Jim Collins untuk mengidentifikasi pemimpin tingkat lima). Sudahkah Anda lihat sekeliling Anda? Jika Anda menemukannya, bergurulah kepada mereka. Jika belum, ciptakan dan tanamkan kualitas kepemimpinan tingkat lima pada diri Anda sendiri. Bukan tidak mungkin, Andalah yang merupakan pemimpin tingkat lima tersebut.n

 

Disiplin sebagai penentu sukses

Sukses adalah hasil dari berbagai aspek seperti kerja keras, kepandaian, rencana dan pelaksanaan yang hati-hati, serta, sedikit keberuntungan. Di samping itu, sukses juga ditentukan oleh displin atau tidaknya seseorang meraih segala sesuatu dan ‘meletakkan sesuatu di tempat yang layak’.
Tanpa disiplin, seseorang tak akan mampu menyelesaikan segala apa yang telah direncanakannya. Dia tak akan mampu melakukan sebuah strategi secara berkesinambungan untuk meraih tujuan jika tidak punya disiplin. Disiplinlah yang membuat kita berada on track, tak peduli seberapa berat yang dihadapi. Orang yang disiplin tahu apa saja yang perlu dilakukan dan berfokus pada hal itu.
1. Dimulai pagi hari
Sebetulnya, disiplin tidak usah dibicarakan terlalu muluk. Secara sederhana, sejak pagi dimulai, kedisiplinan tanpa sadar sudah menyertai. Bangun pukul sekian, mandi, kemudian berangkat dari rumah, adalah contoh kecil tentang disiplin.
Banyak orang sukses akan setuju bila faktor disiplin disertakan sebagai salah satu resep keberhasilan mereka. Bila kita bangun dengan kaki yang salah misalnya, sebagai akibatnya kita merasa tidak enak badan, bisa dipastikan bahwa hari itu kita akan lebih tidak produktif ketimbang hari-hari di mana segala sesuatunya berjalan lancar.
Kiat penting untuk mengoptimalkan pagi hari adalah dengan membuat semacam rutinitas kecil. Bangunlah di waktu-waktu yang sama – misalnya pukul 5-6 pagi (bukannya bisa bangun jam lima, bisa juga jam sepuluh nanti), dan kerjakan hal-hal kecil yang efisien, seperti menyiapkan pakaian, atau memanaskan mobil, dan sebagainya. Jangan lupa pula sarapan pagi untuk memberi energi.
2. Optimalkan waktu kerja
Disiplin tak terlepas dari optimalisasi waktu kerja. Kalau di waktu kerja kita cenderung bermalas-malasan, menunda pekerjaan, dan sebangsa, kapan kesuksesan itu bakal muncul? Singgah saja pun jangan-jangan tak sudi.
Untuk itu, agar kedisiplinan kita berjalan teratur, buatlah daftar tugas setiap hari. Kita bisa membaginya dalam beberapa periode, tergantung dari rutinitas atau proyek yang sedang dikerjakan.
Dengan menuliskan manajemen waktu, kita bisa membayangkan segala tujuan, dan kemudian mengukur efisiebsi kerja kita sendiri. Selain itu, kita juga bisa tahu sebanyak apa kerja yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu proyek tertentu. Dengan melihat hasilnya, kita juga bisa tahu apakah target yang kita tentukan itu gagal atau tidak. Kalau iya, apakah hal itu disebabkan rencana yang tidak layak, atau karena terinterupsi oleh orang lain, atau karena kita sendiri yang tidak disiplin mengerjakan tugas sesuai jadwal.
3. Seberapa lama ketahanan tubuh ?
Setiap orang tentu punya ketahanan tubuh yang berbeda-beda. Ada orang yang tahan bekerja di depan komputer sampai 8-10 jam, ada juga yang tidak. Ukurlah hal ini, lalu terapkan pada daftar tugas.
Misalnya, kalau kita tahu bahwa kita cuma tahan bekerja selama lima jam saja pada hari Jumat – karena harus ke mesjid atau kita sudah terlalu bosan di kantor, maka optimalkan saja kerja lima jam itu. Jam kerja lainnya kita isi dengan kegiatan yang menghibur. Sebab, kalau dipaksakan bekerja sampai 10 jam misalnya, tapi hanya dengan 50% kapasitas kita, itu cuma buang-buang waktu.
4. Pikiran sehat terdapat dalam tubuh yang sehat Ini sudah jelas ada dalam buku sekolah anak SD. Dan tak usah diperdebatkan lagi, bila kondisi fisik kita prima, kita juga akan bekerja lebih baik ketimbang ketika kita sakit. Karena itu, jagalah selalu kesehatan.
5. Seimbangkan kerja dengan hiburan
Catat bahwa kerja hanyalah satu bagian dalam hidup kita. Bila kita meninggalkan kantor, tinggalkan. Jangan bawa dalam pikiran kita, karena seharusnya bagian lain dalam hidup kita yang mengambil alih. Untuk itu, cobalah berdisiplin untuk membagi segala sesuatunya dengan layak.
Sukses bukan cuma di karir saja, tapi dalam kehidupan pribadi kita sendiri. Di sinilah disiplin mengelola hidup kita akan memberikan hasil. Percayalah, hidup ini jauh lebih bermakna ketimbang sekadar mencari uang.
Diposting oleh ARIP PRASETYO OK Label:
MARVEL and SPIDER-MAN: TM & 2007 Marvel Characters, Inc. Motion Picture © 2007 Columbia Pictures Industries, Inc. All Rights Reserved. 2007 Sony Pictures Digital Inc. All rights reserved. Template distributed by BloggerTemplatesWidgets